Dokumentasi terkurasi mengenai visi, perjuangan, dan kontribusi nyata bagi ekosistem lokal.
Lahir di Bone, Sulawesi Selatan, M. Aan Mansyur adalah salah satu penyair kontemporer paling cemerlang di Indonesia yang berhasil membuktikan bahwa puisi sastra bermutu tinggi mampu merebut hati generasi digital tanpa kehilangan ketajaman maknanya.
Karya-karya puisinya—seperti 'Tidak Ada New York Hari Ini' (yang menjadi jiwa dalam film Ada Apa Dengan Cinta? 2), 'Melihat Api Bekerja', 'Sebelum Sendiri', hingga 'Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau'—dikenal memiliki metafora sunyi yang sangat menghunjam batin pembaca. Tak hanya menulis di atas kertas, Aan membangun ruang literasi mandiri Katakerja di Makassar—sebuah perpustakaan komunitas dan ruang dialog inklusif bagi pemuda Indonesia Timur.
Bagi generasi muda yang haus akan ketenangan batin, Aan Mansyur adalah perawat sunyi: mengingatkan kita bahwa membaca puisi adalah cara paling lembut untuk merawat empati kemanusiaan di dunia yang kian bising dan individualistik.
CATATAN REDAKSI & TELAAH WACANA
SEKTOR LOKAL | KURASI INDEPENDEN
Mendirikan ruang kreatif dan perpustakaan komunitas Katakerja di Makassar, menjadi episentrum literasi alternatif pemuda Sulawesi.
Menulis kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini untuk film AADC 2 yang memicu kebangkitan minat membaca puisi di kalangan jutaan anak muda.
Mengkurasi Makassar International Writers Festival (MIWF) dan residensi kepenulisan di Inggris, Australia, dan Belanda.
Antologi puisi kesunyian perkotaan yang fenomenal dengan terjemahan multibahasa dan ilustrasi fotografi analog.
Kumpulan puisi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa yang membedah cinta, ingatan kehilangan, dan rasa sakit secara visual puitis.
Wadah swadaya ratusan anak muda Indonesia Timur untuk berdiskusi sastra, mengarsip buku sejarah lokal, dan lokakarya menulis.
Karya mandiri, platform terapan, dan produk bernilai tambah yang dapat diakses, dibeli, atau didukung secara langsung.
Antologi puisi kesunyian perkotaan yang fenomenal dengan terjemahan multibahasa dan ilustrasi fotografi analog.
Kumpulan puisi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa yang membedah cinta, ingatan kehilangan, dan rasa sakit secara visual puitis.
Catatan Aan Mansyur tentang bagaimana membaca sebaris bait puisi mampu memperlambat detak waktu yang serba terburu-buru.
Baca Esai LengkapKisah perjuangan merawat ruang belajar swadaya di Makassar yang melahirkan generasi penulis dan pemikir baru.
Baca Esai Lengkap