Penyair, Penulis Buku & Pendiri Komunitas Literasi Katakerja Makassar

M. Aan Mansyur

Kutipan Redaksi

“Puisi adalah ruang hening untuk menyapa diri sendiri di tengah riuhnya linimasa yang kerap membuat kita lupa arah jalan pulang.”

++++
M. Aan Mansyur
POTRET FIGURKURASI REDAKSI
REKAM JEJAK

Narasi & Gagasan

Dokumentasi terkurasi mengenai visi, perjuangan, dan kontribusi nyata bagi ekosistem lokal.

Lahir di Bone, Sulawesi Selatan, M. Aan Mansyur adalah salah satu penyair kontemporer paling cemerlang di Indonesia yang berhasil membuktikan bahwa puisi sastra bermutu tinggi mampu merebut hati generasi digital tanpa kehilangan ketajaman maknanya.

Karya-karya puisinya—seperti 'Tidak Ada New York Hari Ini' (yang menjadi jiwa dalam film Ada Apa Dengan Cinta? 2), 'Melihat Api Bekerja', 'Sebelum Sendiri', hingga 'Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau'—dikenal memiliki metafora sunyi yang sangat menghunjam batin pembaca. Tak hanya menulis di atas kertas, Aan membangun ruang literasi mandiri Katakerja di Makassar—sebuah perpustakaan komunitas dan ruang dialog inklusif bagi pemuda Indonesia Timur.

Bagi generasi muda yang haus akan ketenangan batin, Aan Mansyur adalah perawat sunyi: mengingatkan kita bahwa membaca puisi adalah cara paling lembut untuk merawat empati kemanusiaan di dunia yang kian bising dan individualistik.

FILOSOFI & ARAH PERJUANGAN
“

Puisi adalah ruang hening untuk menyapa diri sendiri di tengah riuhnya linimasa yang kerap membuat kita lupa arah jalan pulang.

CATATAN REDAKSI & TELAAH WACANA

SEKTOR LOKAL | KURASI INDEPENDEN

2005 — 2013

PENDIRIAN KOMUNITAS KATAKERJA MAKASSAR

Mendirikan ruang kreatif dan perpustakaan komunitas Katakerja di Makassar, menjadi episentrum literasi alternatif pemuda Sulawesi.

2016

TIDAK ADA NEW YORK HARI INI & GELOMBANG PUISI

Menulis kumpulan puisi Tidak Ada New York Hari Ini untuk film AADC 2 yang memicu kebangkitan minat membaca puisi di kalangan jutaan anak muda.

2017 — 2026

FESTIVAL SASTRA MAKASSAR & RESIDENSI DUNIA

Mengkurasi Makassar International Writers Festival (MIWF) dan residensi kepenulisan di Inggris, Australia, dan Belanda.

PORTOFOLIO & KONTRIBUSI

Karya & Kontribusi

KARYA TERPILIH
Karya Sastra Puisi & Fotografi

Buku: Tidak Ada New York Hari Ini (Kumpulan Puisi)

Antologi puisi kesunyian perkotaan yang fenomenal dengan terjemahan multibahasa dan ilustrasi fotografi analog.

Karya Sastra Puisi & Ilustrasi

Buku: Melihat Api Bekerja

Kumpulan puisi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa yang membedah cinta, ingatan kehilangan, dan rasa sakit secara visual puitis.

Pusat Kebudayaan & Literasi Mandiri

Katakerja (Ruang Belajar & Perpustakaan Komunitas Makassar)

Wadah swadaya ratusan anak muda Indonesia Timur untuk berdiskusi sastra, mengarsip buku sejarah lokal, dan lokakarya menulis.

KATALOG PRODUK & INISIATIF

Inisiatif & Produk Warga

Karya mandiri, platform terapan, dan produk bernilai tambah yang dapat diakses, dibeli, atau didukung secara langsung.

Buku: Tidak Ada New York Hari Ini (Kumpulan Puisi)
Karya Sastra Puisi & Fotografi

Buku: Tidak Ada New York Hari Ini (Kumpulan Puisi)

Antologi puisi kesunyian perkotaan yang fenomenal dengan terjemahan multibahasa dan ilustrasi fotografi analog.

Estimasi Harga / Akses:Rp 85.000 — Rp 185.000
Dukung Inisiatif
Buku: Melihat Api Bekerja
Karya Sastra Puisi & Ilustrasi

Buku: Melihat Api Bekerja

Kumpulan puisi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa yang membedah cinta, ingatan kehilangan, dan rasa sakit secara visual puitis.

Estimasi Harga / Akses:Rp 85.000 — Rp 185.000
Dukung Inisiatif
RUANG REDAKSI

Jurnal & Wawasan

Semua Esai Redaksi →
SASTRA & REFLEKSI•7 Menit Membaca

Seni Merawat Kesunyian: Mengapa Puisi Adalah Terapi Terbaik Melawan Bisingnya Linimasa

Catatan Aan Mansyur tentang bagaimana membaca sebaris bait puisi mampu memperlambat detak waktu yang serba terburu-buru.

Baca Esai Lengkap
LITERASI AKAR RUMPUT•6 Menit Membaca

Menyalakan Lilin di Katakerja: Bagaimana Komunitas Literasi Daerah Membuka Cakrawala Pemuda

Kisah perjuangan merawat ruang belajar swadaya di Makassar yang melahirkan generasi penulis dan pemikir baru.

Baca Esai Lengkap