Tokoh Adat Suku Mollo NTT, Goldman Environmental Prize Winner & Penjaga Pegunungan Mutis
“Batu adalah tulang kita, air adalah darah kita, tanah adalah daging kita, dan hutan adalah rambut kita. Menyerahkan tanah ulayat kepada tambang marmer sama saja dengan memutilasi tubuh kita sendiri.”

Dokumentasi terkurasi mengenai visi, perjuangan, dan kontribusi nyata bagi ekosistem lokal.
Di pedalaman Pegunungan Mutis, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Mama Aleta Baun memimpin perlawanan damai yang mengguncang korporasi tambang marmer dan pemegang konsesi perusak lingkungan. Menghadapi ancaman pembunuhan, penyerangan fisik, hingga terpaksa bersembunyi di dalam hutan bersama bayinya, Mama Aleta menolak menyerah.
Menyadari bahwa marmer yang hendak dikeruk perusahaan adalah batu sakral penahan mata air bagi tiga suku besar (Mollo, Miomafo, Amanatun), Mama Aleta memobilisasi ratusan perempuan adat untuk menggelar aksi duduk menenun kain tradisional di mulut tambang selama setahun penuh. Aksi tanpa kekerasan ini melumpuhkan total alat-alat berat perusahaan hingga tambang ditutup secara permanen.
Dianugerahi Goldman Environmental Prize 2013, Mama Aleta membuktikan kekuatan kearifan lokal perempuan adat: mengubah tenun pewarna alami menjadi senjata perlawanan menjaga keabadian mata air nusantara.
CATATAN REDAKSI & TELAAH WACANA
SEKTOR LOKAL | KURASI INDEPENDEN
Memimpin aksi ratusan perempuan Mollo menenun di lokasi tambang batu marmer Gunung Anjaf dan Nausus hingga izin tambang dibatalkan total.
Menerima penghargaan lingkungan tertinggi dunia (Goldman Prize) atas keberhasilan melindungi hutan suaka Pegunungan Mutis tanpa pertumpahan darah.
Membangun koperasi perempuan penenun pewarna alami dan konservasi benih tanaman pangan lokal di Timor Tengah Selatan.
Unit usaha mandiri ratusan perempuan penenun NTT yang menggunakan tanaman pewarna alami tanpa merusak kelestarian hutan.
Wilayah hutan suaka adat yang diselamatkan dari tambang marmer, kini menjadi sumber air abadi bagi ribuan keluarga petani di pulau Timor.
Pusat pelestarian varietas jagung lokal dan umbi-umbian tahan kekeringan warisan leluhur Timor.
Karya mandiri, platform terapan, dan produk bernilai tambah yang dapat diakses, dibeli, atau didukung secara langsung.
Unit usaha mandiri ratusan perempuan penenun NTT yang menggunakan tanaman pewarna alami tanpa merusak kelestarian hutan.
Wilayah hutan suaka adat yang diselamatkan dari tambang marmer, kini menjadi sumber air abadi bagi ribuan keluarga petani di pulau Timor.
Kisah keberanian Mama Aleta Baun menggelar aksi menenun kain di tengah dinginnya kabut gunung dan ancaman preman bersenjata.
Baca Esai LengkapMenelusuri ajaran leluhur Timor tentang hubungan sakral antara manusia dan bentang alam sekitarnya.
Baca Esai Lengkap