Inisiator Aksi Kamisan, Pembela Hak Asasi Manusia & Penjaga Api Moral Keadilan Bangsa
“Payung hitam kami yang berdiri diam di seberang Istana Negara setiap Kamis sore adalah saksi bisu bahwa kebenaran tidak akan pernah padam dan kejahatan kemanusiaan tidak boleh diputihkan oleh kekuasaan.”

Dokumentasi terkurasi mengenai visi, perjuangan, dan kontribusi nyata bagi ekosistem lokal.
Ketika putra tercintanya, Bernardinus Realino Norma Irawan (Wawan)—seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya yang bertugas sebagai relawan tim medis kemanusiaan—ditembak mati oleh peluru aparat keamanan dalam Tragedi Semanggi I pada 13 November 1998, Maria Catarina Sumarsih memilih tidak tenggelam dalam ratapan kesedihan.
Ia mengubah duka lara seorang ibu menjadi api perlawanan moral paling konsisten dalam sejarah Republik Indonesia. Sejak 18 Januari 2007, bersama keluarga korban pelanggaran HAM berat masa lalu lainnya, Sumarsih berdiri tegap di seberang Istana Kepresidenan Jakarta setiap hari Kamis sore, mengenakan baju hitam dan memegang payung hitam dalam Aksi Kamisan.
Hampir dua dekade berlalu menembus terik matahari dan guyuran hujan badai serta berganti-ganti presiden, Sumarsih tetap berdiri diam tanpa lelah menuntut penuntasan pengadilan HAM ad hoc dan menolak impunitas bagi para jenderal pelanggar hak asasi manusia. Sumarsih adalah kompas moral peradaban bangsa kita.
CATATAN REDAKSI & TELAAH WACANA
SEKTOR LOKAL | KURASI INDEPENDEN
Kehilangan putra sulungnya yang ditembak aparat saat menolong demonstran korban penembakan di Jakarta, mengawali perjalanan advokasi keadilan seumur hidup.
Menginisiasi Aksi Kamisan pertama bersama JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan), menuntut pengusutan tuntas kasus Trisakti, Semanggi, dan penculikan aktivis.
Mempertahankan Aksi Kamisan melampaui 800 pekan berturut-turut, menjadi simbol perlawanan damai yang diadopsi oleh pemuda di puluhan kota Indonesia.
Aksi diam damai setiap Kamis sore di seberang Istana Presiden yang telah berlangsung selama belasan tahun menuntut pengadilan HAM ad hoc.
Wadah persaudaraan keluarga korban kejahatan kemanusiaan masa lalu yang saling menguatkan dalam merawat ingatan kolektif bangsa.
Pengarsipan bukti-bukti balistik, kesaksian saksi kunci, dan kronik penembakan mahasiswa 1998 untuk menolak pemutarbalikan sejarah.
Karya mandiri, platform terapan, dan produk bernilai tambah yang dapat diakses, dibeli, atau didukung secara langsung.
Aksi diam damai setiap Kamis sore di seberang Istana Presiden yang telah berlangsung selama belasan tahun menuntut pengadilan HAM ad hoc.
Wadah persaudaraan keluarga korban kejahatan kemanusiaan masa lalu yang saling menguatkan dalam merawat ingatan kolektif bangsa.
Perjalanan hidup Sumarsih merawat api keadilan di bawah terik dan hujan di seberang gerbang Istana Negara.
Baca Esai LengkapPentingnya mengadili para pelaku kejahatan kemanusiaan agar tragedi kelam masa lalu tidak berulang kepada generasi muda hari ini.
Baca Esai Lengkap